Sumber: ekonomi.bisnis.com

Grup bisnis yang dipimpin oleh Sukanto Tanoto memang terkenal aktif dalam menjalankan program pertanggungjawaban sosial (CSR). Sebagai sebuah grup bisnis yang berbasis pada alam, praktek industri yang ramah lingkungan dan berkelanjutan selalu menjadi perhatian utama bagi Royal Golden Eagle (RGE). Setiap unit bisnisnya tidak pernah berhenti untuk berinovasi. Demi mewujudkan sustainable fashion, grup RGE juga tidak segan-segan untuk berinvestasi dalam jumlah besar.

Pada 15 Oktober 2019 lalu, RGE menyatakan rencananya untuk menginvestasikan uang senilai USD 200 juta untuk riset dan pengembangan serat tekstil selulosa atau rayon selama 10 tahun ke depan. Ini menjadi langkah strategis perusahaan Sukanto Tanoto, khususnya dalam mendorong masa depan dunia fashion yang lebih ramah lingkungan.

Viscose Rayon, Masa Depan Industri Tekstil yang Ramah Lingkungan

Berpakaian kini tidak lagi hanya menjadi sebuah kebutuhan. Pakaian telah bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup yang terus berubah mengikuti zaman. Hal ini memicu tren fashion yang juga terus berubah. Namun selain memberi dampak positif bagi ekonomi, hal tersebut juga memiliki sisi gelap yang tidak boleh diabaikan.

Menurut data yang berhasil dihimpun oleh Ellen McArthur Foundation, setiap detiknya ada 12 ton sampah pakaian dihasilkan di seluruh dunia. Dari sampah pakaian tersebut, sebanyak 60% di antaranya terbuat dari kain sintetis berbahan nylon, polyester dan acrylic. Padahal, kain-kain tersebut merupakan bentuk turunan dari plastik. Mendaur ulangnya secara alami dipastikan butuh waktu yang tidak sedikit.

Sebagai seorang pelaku usaha yang visioner, Sukanto Tanoto memandang hal tersebut lebih dari sekedar masalah yang harus diselesaikan. Dari permasalahan tersebut, ia juga melihat arah evolusi dunia fashion, khususnya industri tekstil di masa depan.

Viscose rayon menjadi sebuah solusi yang ditawarkan perusahaan Sukanto Tanoto untuk membantu mengatasi masalah tersebut. Kain viscose rayon sendiri merupakan sebuah produk tekstil yang dihasilkan dari pohon. Karena terbuat dari bahan alami, viscose rayon jauh lebih mudah terurai jika dibandingkan dengan kain sintetis.

Sifatnya yang lebih mudah terurai membuat viscose rayon jauh lebih ramah lingkungan. Kepedulian masyarakat akan kelestarian lingkungan juga semakin matang. Hal ini menjadi landasan sekaligus indikasi positif akan masa depan dunia fashion. Inilah yang mendorong perusahaan Sukanto Tanoto untuk mempercepat langkahnya dalam menyempurnakan rayon viskosa.

Alokasi Investasi USD 200 Juta

Investasi senilai USD 200 juta jelas bukan angka yang sedikit. Meski demikian, hal tersebut sangat sepadan dengan tujuan besar yang ingin diwujudkan oleh Sukanto Tanoto dan grup bisnisnya, Royal Golden Eagle (RGE).

Dana senilai USD 200 juta yang diinvestasikan grup RGE rencananya akan direalisasikan secara bertahap selama 10 tahun ke depan. Alokasi dari dana tersebut tidak hanya berfokus pada riset dan pengembangan produk. Secara umum, alokasinya dibagi menjadi 70% untuk peningkatan teknologi bersih dalam pembuatan serat, 20% untuk pengembangan produk percontohan dan 10% untuk pengembangan RnD (Research and Development).

Investasi ini pun dipastikan akan memberi keuntungan besar bagi dua unit bisnis Sukanto Tanoto yang bergerak di bidang rayon, yakni Sateri yang bermarkas di Cina dan Asia Pacific Rayon (APR) yang berlokasi di Indonesia. Kedua unit bisnis tersebut sama-sama menggunakan bahan baku dari sumber perkebunan terbarukan. Jadi selain memproduksi produk tekstil ramah lingkungan, proses produksi yang dilakukan dari hulu hingga ke hilir juga dilakukan dengan prinsip berkelanjutan.

Saat ini, total kapasitas produksi tahunan viscose rayon dari kedua unit bisnis RGE tersebut mencapai 1,4 juta ton. Dengan kapasitas produksi sebesar itu, tidak mengherankan jika grup Royal Golden Eagle yang dipimpin Sukanto Tanoto dikenal sebagai produsen rayon viskosa terbesar di dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *